Assalamu'alaikum Wr. Wb

Terima kasih atas kunjungan anda....

Blog sederhana ini hanya sebuah media untuk menulis buah pemikiran tentang perubahan dari sudut pandang terkecil untuk memperbaiki tatanan ekonomi dalam masyarakat. Pemikiran saya ini hanyalah sebuah kegundahan saya tentang arti sebuah kesejahteraan yang selama ini terjadi dalam masyarakat.

Kesejahteraan merupakan sebuah impian dari setiap warga negara dalam menjalani hidupnya. Pola ukur kesejahteraan dalam masyarakat selama ini hanya dilihat dari sudut pandang secara ekonomi. Hal ini akan terpengaruh terhadap berapa banyak pendapatan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Untuk mencapai kebutuhan hidup ini, setiap orang berusaha mencapainya sejalan dengan fasilitas yang diberikan oleh pemeritah untuk mendukungya. Pasilitas pendukung yang diberikan oleh pemerintah banyak sekali, sayangnya pembuatan pasilitas tersebut hanya sebatas keharusan saja tanpa melihat seberapa banyak pengaruh fasilitas itu dapat mendukungnya. Proyek-proyek yang dibangun tidak mendukung sumber daya alam maupun manusia daerah sekitarnya yang berujung pada mubadzirnya proyek itu sendiri. Akhirnya perjuangan untuk mencapai kesejahteraan hanyalah sebuah mimpi yang berujung biaya tinggi, kekecewaan,dan keputusasaan.

Berusaha secara mandiri merupakan obat yang mujarab untuk menghapus kekecewaan dan keputusasaan. Ketidaktergantungan terhadap apa yang diberika pemerintah merupakan respon yang positif bahwa kita bisa berdiri sendiri. Ini menjadikan kita menjadi diri sendiri dan memberikan kritikan secara tidak langsung terhadap pemerintah. Marilah kita berdiri diatas kaki sendiri,,, bukan orang lain, dan bukan pemerintah.

Salam Perubahan

Abin Suarsa, SE., M.M



Sabtu, 25 Agustus 2012

Dari Tukang Sapu Jadi Pengusaha Sukses

Banyak pepatah lama yang mengatakan "hidup seperti roda berputar" tampaknya berlaku bagi Tri Sumono. Berawal dari kerjanya menjadi kuli bangunan hingga tukang sapu terus dijalankannya, kini dirinya sukses menjadi pengusaha beromzet ratusan juta rupiah per bulannya.


Lewat perusahaan yang dikelolanya yaitu CV 3 Jaya, Tri dapat mengelola banyak cabang usaha yang dilakukannya. Seperti produksi kopi jahe saset merek Hootri, toko sembako, peternakan burung, pertanian padi dan jahe.

Bisnis lain yang ditekuninya, seperti penyediaan jasa pengadaan alat tulis kantor (ATK) ke berbagai perusahaan, serta menjadi franchise produk Ice Cream Campina. "Saya juga ikut terus aktif jual beli properti," katanya.

Dari berbagai lini usahanya itu, ia bisa meraup omzet hingga sebesar Rp 500 juta per bulan. Pria kelahiran Gunungkidul, 7 Mei 1973, ini mengaku tak pernah berpikir hidupnya bakal enak dan bahagia seperti sekarang ini yang dijalankan. Memang kunci kesuksesan itu niat dari hati, fokus pada usaha, dan siap menerima pahit atau manisnya dalam berusaha.

Terlebih ketika ia mengenang masa-masa awal datangnya ke kota metropolitan Jakarta. Mulai merantau ke Jakarta pada 1993, pria yang hanya lulusan sekolah menengah atas (SMA) ini sama sekali tidak memiliki keahlian. Dan dari tidak mempunyai keahlian, dirinya belajar untuk mencoba sesuatu yang lebih berbeda dan mempunyai inovasi yang canggih untuk kedepannya.

Ia nekat mengadu nasib ke Ibu kota dengan hanya membawa tas berisi kaus dan ijazah SMA. Untuk bertahan hidup di kota keras Jakarta, ia pun tidak berani memilih-milih pekerjaan untuk mendapatkan suatu penghasilan.

Bahkan, pertama kali bekerja di Jakarta, Tri menjadi buruh bangunan di daerah Ciledug, Jakarta Selatan. Namun, pekerjaan kasar itu tak lama dijalani dan ditekuninya.

Tak lama menjadi kuli bangunan, ia mendapat tawaran menjadi tukang sapu di Kantor Kompas Gramedia di Palmerah, Jakarta Barat.

Tanpa pikir panjang tawaran itu langsung berani diambilnya. "Pekerjaan menjadi sebagai tukang sapu lebih mudah ketimbang jadi buruh bangunan," jelasnya.

Lantaran kinerjanya sangat memuaskan, kariernya pun naik dari tukang sapu menjadi office boy. Dari sanalah, kariernya kembali menanjak menjadi tenaga pemasar dan juga penanggung jawab untuk gudang.

Di tahun 1995, ia mencoba mencari penghasilan tambahan dengan berjualan aksesori di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Saat itu, Tri sudah berkeluarga dengan mempunyai dua orang anak. "Saya dagang aksesori seperti jepit rambut, kalung dan gelang dengan modal Rp 100.000," jelasnya.


Setiap hari Sabtu-Minggu lah, Tri rutin membuka lapak di Stadion Gelora Bung Karno. Dua tahun sudah berjualan, modal dagangannya mulai terkumpul lumayan banyak dan cukup memuaskan.

Dari sanalah, ia kemudian mempunyai pandangan dan cara berpikir bahwa dengan berdagang ternyata mengumpulkan penghasilkan lebih menjanjikan, ketimbang dirinya menjadi karyawan dengan gaji pas-pasan dan tidak ada kenaikan yang signifikan. Makanya pada tahun 1997, ia memutuskan mundur dari pekerjaannya dan fokus berjualan.

Berbekal uang hasil jualan selama dua tahun di Gelora Bung Karno, Tri berhasil membeli sebuah kios di Mal Graha Cijantung. "Setelah pindah ke Cijantung, bisnis aksesori ini meningkat tajam," ujarnya.

Tahun 1999, ada seseorang yang menawar kios beserta usahanya dengan harga mahal. Mendapat tawaran menarik, Tri kemudian menjual kiosnya itu. Dari hasil penjualan kios ditambah tabungan selama ia berdagang, ia kemudian membeli sebuah rumah di Pondok Ungu, Bekasi Utara. Di tempat baru inilah, perjalanan bisnis Tri dimulai. (*DI)
sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/perdagangan/19301--dari-tukang-sapu-jadi-pengusaha-sukses.html